DR. Hj. Popi Puadah: Semakin Banyak Kaum Intelektual Masuk ke Dunia Politik Maka Indonesia akan Menjadi Negara yang Lebih Baik

INDONESIASATU.CO.ID:

TOKOH - Dr. Popi Puadah, sebuah nama yang sangat "nyunda" karena tidak mengunakan huruf “f” untuk nama panjangnya, nama yang mudah diingat orang. Dilahirkan 49 tahun yang lalu di Desa Jatiragas Kecamatan Jatisari-Kabupaten Karawang, tepatnya pada tanggal 8 Juli 1969 dari seorang ibu yang bernama Hj. Edeh Rosidah (almarhumah) dan bapak H. Amin Bunyamin.

Sejak usia 8 tahun,  Dr. Popi Puadah sudah tidak memiliki ibu karena meninggal pada saat melahirkan adik bungsunya. Dibesarkan oleh nenek dan bapak dengan 4 orang adik yang jarak usianya masing-masing terpaut 2 tahun. Jadi sudah sejak kecil hidupnya dilatih untuk mandiri, karena harus membantu nenek dalam mengasuh adik-adiknya.

Dr. Popi Puadah menjalani pendidikannya di SDN Jatiragas 2 dari tahun 1976-1982, MTsN Cilamaya dari tahun 1982-1985, PGAN Cilamaya dari tahun 1985-1988. Jadi sampai tingkat SLTA Dr. Popi Puadah sekolah dan besar di Kabupaten Karawang.

Pada tahun 1988, melalui jalur Penelusuran Minat dan Keahlian (PMDK), Dr. Popi Puadah masuk ke Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Gunung Djati Bandung untuk menempuh pendidikan pada Fakultas Tarbiyah, program Studi Pendidikan Agama Islam. Studi di IAIN ini diselesaikan Dr. Popi dalam waktu 4 tahun dengan IPK cumlaude sebesar 3,51 dan ditetapkan sebagai “Wisudawan Terbaik”. Selama kuliah di IAIN, Dr. Popi Puadah mendapat beasiswa dari yayasan Supersemar 4 tahun berturut-turut sampai semester terakhir.

Pada tahun 2000, Dr. Popi Puadah masuk program Magister di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) program studi Manajemen Pendidikan, karena memperoleh IPK tertinggi pada program studi Manajemen Pendidikan, Dr. Popi Puadah diberi kesempatan untuk langsung masuk ke program Doktor tanpa harus menyelesaikan program S2. Pada tahun 2001 Dr. Popi Puadah resmi jadi mahasiswa S3 pada program studi Manajemen Pendidikan dan selesai pada tahun 2006.  

Selama menempuh pendidikan pada program S2 sampai S3, Dr. Popi Puadah mendapat beasiswa penuh dari BPPS Kemendikbud yang sekarang berubah menjadi Kemristekdikti.

Pekerjaan pertama Dr. Popi Puadah dimulai pada tahun 1993 sebagai Dosen pada Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Islam Attahiriyah (UNIAT) Jakarta. Selama 24 tahun menjadi dosen, Dr. Popi Puadah juga dipercayakan menduduki jabatan dari mulai Sekretaris Jurusan PAI, Ketua Jurusan PAI, dan Terakhir Dekan Fakultas Agama Islam. Pada 2018, Dr. Popi Puadah memutuskan untuk keluar dari UNIAT dan pindah ke Universitas Islam Jakarta sebagai dosen tetap pada Program Pascasarjana.

Selain menjadi dosen, Dr. Popi Puadah juga dipercaya oleh Kementerian Agama RI untuk menjadi Konsultan pada Direktorat Jenderal Pendidikan Islam yang menangani secara khusus program Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang sebelumnya dikelola bersama dengan kemendikbud. Pekerjaan ini ditekuninya dari tahun 2006 sampai tahun 2016. Selama menjadi konsultan, banyak hal yang sudah Dr. Popi Puadah lakukan untuk kelancaran pelaksanaan program BOS pada madrasah dan pondok pesantren di seluruh Indonesia. Berdasarkan pengalaman menangani program BOS inilah Dr. Popi Puadah jadi mengerti bahwa “dengan segenggam kekuasaan kita bisa berbuat banyak untuk masyarakat.”

Selama jadi konsultan, Dr. Popi Puadah sering mengajukan berbagai usulan ke berbagai instansi pemerintah, khususnya Kementerian Keuangan dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tentang adanya kesulitan yang dihadapi oleh madrasah atau pondok pesantren dalam mencairkan atau menggunakan dana BOS, termasuk memediasi madrasah atau pondok pesantren penerima BOS yang mendapatkan teguran atau temuan dari lembaga pemeriksa keuangan, seperti BPK, BPKP, atau Inspektorat Jendral.

Berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi ke madrasah dan pondok pesantren di seluruh provinsi, Dr. Popi Puadah menjadi tahu kondisi madrasah dan pondok pesantren di seluruh Indonesia dengan segala permasalahannya, termasuk masalah guru, kualitas pembelajaran, masalah keuangan, masalah sarana dan prasarana, dan beberpa masalah lainnya yang hanya bisa diselesaikan dengan kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah. 

Melalui kiprah Dr. Popi Puadah di Kementerian Agama, Dia juga dipercaya oleh AUSAID melalui Kemendikbud untuk menjadi Master Trainers Nasional yang bertanggung jawab untuk melatih beberapa sekolah atau madrasah dalam mengelelola keuangan khususnya yang bersumber dari dana BOS, sehingga penggunaannya lebih efektif dan terhindar dari penyimpangan yang telah ditetapkan oleh pemerintah.  

Ingin lebih berperan aktif dalam membangun bangsa dan negara, dengan pendidikan dan pengalaman yang dia punyai, Dr. Popi Puadah mendaftarkan diri pada Partai Bulan Bintang (PBB) sebagai Calon Legislatif DPR RI 2019-2024. Dia menyadari bahwa untuk bisa ikut serta dalam perubahan sistem dan tata kelola negara dan pemerintahan yang lebih baik, kaum intelektual harus masuk dalam politik praktis. Semakin banyak kaum inteletual yang masuk ke DPR maka Indonesia akan menjadi negara yang lebih baik. Hal ini diperlukan karena para anggota DPR adalah konseptor dan legislator yang akan menentukan arah negara dan pemerintahan ke depan, yang melindungi hak dan kewajiban warga negara menuju masyarakat Indonesia yang adil dan sejahtera. (***)

 

 


 

  • Whatsapp

Berita Terpopuler

Index Berita